Terima Kasih Telah Meluangkan Waktunya Untuk Mengunjungi Blog Ini

Siri' Na Ranreng'

Bugis adalah Suku mempunyai keinginan yang sangat tinggi untuk berhasil, didorong oleh faktor menegakkan siri' harga diri yang menggelora didalam hatinya setiap detik setiap saat.

Dalam pernyataan adat, hanya untuk Siri' lah kita hidup didunia, menyebabkan semua etnik Bugis akan mati matian bertarung untuk meraih kesuksesan di daerah mana
saja dia merantau, meskipun nyawa adalah taruhannya.

"Siri' emmi ri - onroang ri lino
utettong ri-ada'e
najagainnami siri'ta
naina siri'e sunge' naranreng
nyawa na kira kira"

Hanya untuk Siri' kita hidup didunia
Aku setia kepada Adat
Karena dijaganya Siri' kita
Adapun Siri' jiwa imbalannya
Nyawa perkiraannya.
"NAREKKO SIRI'NA NARANRENG,AGAPI RIATTANGNGARI, DE' NALABU' MATANNA ESSOE RI TENGNGANA BITARAE, LE'BINI MATE MASSOLASSOLE MASSOLASSOLA MATETO, TAU WARANI MATETO, MASSOLASSOLA LE'BINI MATE MASSOLASSOLAE, MATE RISANTANGNGI, MATE RIGOLLAI ".

"Tetaplah bersemangat dan teguh menjalani segala tantangan hidup"

Dalam menegakkan Adat, ada persamaan aturan adat; "Ade'e temmakeana temma keeppo", artinya Hukum adat tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu.

Berikut beberapa contoh sejarah:

Raja Bone bernama La Ica (1584 - 1602) dibunuh oleh orang orang Bone, karena kekejamannya, dan diberi gelar kematian "matinroe riadenenna" (yang beradu ditangganya)

Raja Bone yang bernama La Ulio "Botte" (Si Gode) mati diamuk dikampung ittereung, juga karena dianggap kejam.

La Pabbele, putra Arung Matoa Wajo ke X, La Pakoko To Pabbele (1564-1567) memperkosa wanita dikampung Tontico, ia dijatuhi hukuman mati dan dibunuh oleh ayahnya sendiri.

La Temmasonge putra Raja Bone La Patau dipersalahkan membunuh Arung Tiboyong, seorang anggota Dewan Pemangku adat Bone, sekalipun nyata La Temmasonge bertindak demikian karena dipermalukan di hadapan orang banyak.

Raja Gowa I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Bontolangkasa diamuk oleh pengikutnya sendiri dan dibunuh, sehingga mendapat gelar kematian "Tunijallo".

''Masih banyak lagi contoh contoh sejarah dalam menegakkan Adat tanpa mengenal anak dan cucu.

Disini bukan mau membahas masalah payung hujan tetapi payung moral, payung moral itu mungkin berdasarkan nilai2 agama atau kearifan lokal budaya masyarakat yang majemuk. Soal isteri selingkuh apa reaksi kita?…saya berusaha membahas dengan berdasarkan kearifan lokal nilai2 filsafat orang BUGIS (bukan sara atau membanggakan suku kaum tertentu tetapi hanya sebagai perbandingan dan pandangan sesuai denga suku kaum itu). Kita mengetahui mitos orang Bugis terhadap harga diri adalah harga mati. Harga diri orang Bugis yang tertinggi selain agama dan kepercayaannya adalah perempuan. Tidak kurang orang rela mati karena mempertahankan perempuannya( saudara perempuannya, isterinya dan saudaranya atau yang mempunyai hubungan kekeluargaan) dari pelecehan. Kita kenal dengan istilah “SIRI NARANRENG” (harga diri yang dipertaruhkan) sehingga ia menjadi payung pelindung dari perbuatan yang tak bermoral baik perempuan atau lelaki.

Apabila isteri atau keluarga perempuan yang bersuami di dapatkan melakukan perzinahaan maka jawabannya adalah “NYAWA”. Kalau seorang suami mengetahui dengan pasti atau mendapatkan isterinya berzinah maka wajib membunuh kedua-duanya. Bahkan bukan saja suami dari isteri yang bersinah yang berhak membunuh tetapi saudara lelaki ( kakak/adik dr perempuan yang berzinah) dan orang tua juga bisa membunuh perempuan dan lelaki selingkuhnya sebagai penebus maruah dari pihak keluarga lelaki(suami).

Saudara dan orang tua lelaki(suami) tidak berhak bertindak sampai membunuh karena ia kewajiban suaminya dan saudara lelaki isterinya. perkawinan adalah sangat sakral dalam budaya Bugis, maka itu mencari isteri pun biasanya prioritas utama adalah dari keluarga yang bebas perzinahan karena mereka percaya kalau bibit penzinah juga akan menghasilkan buah penzinah. bahkan mereka sangat keras menolak terhadap anak keturunan kawin lari, anak luar nikah, atau anak dr bunting/hamil baru nikah( ini yg harus di hindari) muncullah istilah” ANRE RIOLO BACA DOANG MUNRI” (makan duluan baca doa belakangan). Jangan harap anak itu bisa mendapat jodoh dari kampung/daerah setempat kecuali dari luar yang tidak mengetahui latar belakang atau mungkin ia merantau kedaerah yang lain baru bisa laku.

Di daerah Bugis kita tidak heran ada isteri ditinggalkan oleh suami yang merantau bertahun-tahun bahkan ada berpuluh tahun tetapi mereka tetap setia menjaga kehormatan dirinya sebagai kehormatan utama dari suami dan keluarganya. Ini mungkin juga karena di sekitarnya masih diperhatikan oleh keluarga sendiri atau keluarga suami. Tidak ada nilai seorang lelaki kalau isterinya perna selingkuh atau ada hubungan walaupun tidak melakukan perzinahkan tetapi hati/cintanya sudah di bagi kepada yang tidak berhak. Meraka banyak menentang menjadi TKW karena takut pergaulan bebas atau perzinahan, rela hidup miskin yang penting harga diri kesucian perempuan tetap terjaga.

Walaupun di akui nilai tersebut juga mulai terhakis tetapi masih kental di daerah ranah tanah Bugis utama. Orang Bugis tidak memandang hina poligami (bugis termasuk kaum mengamalkan poligami) tetapi sangat keras terhadap perselingkuhan, percintaan terbuka alias bebas (yang diketahui umum) bahkan merasa malu kalau anak atau saudara perempuannya di wakucari orang lain sehingga bisa menimpulkan kericuhan sampai pembunuhan, bahkan di perantauan juga sering kita dengar pergaduhan hanya karena satu kampung/daerah/suku di kencangi org lain muncullah SIRI(malu) sebagai sesuku,tetapi sangat senang bahkan bangga kalau puterinya banyak yang dipinang untuk di jadikan isteri. Satu kelegahan apabila saudara perempuan sudah di nikahkan karena sudah ada yang menjaga kehormatannya.Mereka meletakkan pernikah sangat tinggi nilainya sehingga kedua pihak rela berkorban material secara besar-besaran.

Soal perzinahaan juga tidak dipungkiri sering berlaku dan berakhir dengan aman (dinikahkan) tetapi jangan berselingkuh dengan yang berstatus isteri, jangan terang2an pacari anak gadis orang. Perzinahaan yang paling pantang adalah janda yang belum resmi (pisah ranjang) atau janda belum habis eddahnya. tapi kalau janda resmi oh rame2 mengodanya bahkan tidak jarang di kangkanginya.

Lelaki khasatria orang bugis adalah yang menjaga kehormatan perempuan.

yang berhak menjaga kehormatan perempuan adalah lelaki mengetahui kelemahan atau sebab peruntuh kehormatan dari perempuan maka itu ” Aggolilingi wekka pitu dapuremmu nappako mabbaine” (kelilingi/ seliputi dahulu dapurmu(kesejahteraan lahir batin) baru melakukan pernikahan).


Orang tua kita (orang Bugis) dulu sangat memegang namanya siri' (malu) tentang harga diri atau kehormatan diri dan keluarga sehingga mungkin kita pernah dengar bahwa ketika keluarganya ada yg kawin lari maka akan dihukum berat-berat bahkan dibunuh demi kehormatan keluarga...jadi jangan berani kawin lari dengan orang bugis! upsss...bisa gawat tuh

Kallolo to ugi' (Pria bugis) dikatakan berani jika mampu menjaga kehormatan Ana'dara Ugi' (Perempuan Bugis) jadi pria bugis adalah pelindung bagi kaum gadis/perempuan bugis jadi ada istilah mengatakan bahwa "Aggolilingi wekka pitu dapuremmu nappako mabbaine” (kelilingi/ seliputi dahulu dapurmu(kesejahteraan lahir batin) baru melakukan pernikahan).

Silessurekku maneng (Saudara/i ku sekalian) menurut Anda di zaman sekarang ini masih banyaknyakah yang memegang teguh siri'orang bugis tersebut?

Jadi siri' dalam bahasa bugis dapat kita simpulkan.
1. Siri sebagai pandangan hidup.
2. Siri, menjaga harga diri, perasaan malu luar biasa jika harga diri jatuh. karena hanya untuk Siri' lah kita hidup didunia.
3. Siri itu sebagai daya pendorong hebat, sumber pembangkitan tenaga untuk membanting tulang, bekerja mati matian, untuk sesuatu pekerjaan atau usaha.

Orang bugis yang dihina keadaan finansialnya maka itu hanya akan menjadi amunisi semangat untuk bekerja keras membuktikan bahwa dia punya harga diri untuk berhasil. Perasaan semacam ini amat bisa dirasakan oleh seorang bugis yang menjunjung tinggi harga dirinya.

dalam menegakkan Siri' ini, juga dapat menjadi daya pendorong untuk melenyapkan (membunuh), mengasingkan, mengusir dan sebagainya terhadap siapa saja yang dalam batas tertentu telah menyinggung perasaan Siri' mereka. ada 3 hal yang utama, penjabaran Siri' dengan malu, unsur dendam, dan kewajiban moral
0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Page Ranking Tool

Contributors

Foto Saya
MANGGE ABHOENK
Lihat profil lengkapku

Recent Posts

Traffic Blog