Terima Kasih Telah Meluangkan Waktunya Untuk Mengunjungi Blog Ini

Manfaat Teka Teki Silang

Sebuah teka-teki bisa membuat kita berpikir, mencari dan menemukan jawaban. Kehidupan penuh dengan teka-teki yang kadangkala menyenangkan, membingungkan dan menyulitkan langkah untuk memecahkannya. Teka-teki silang seperti sebuah misteri yang menggelitik perasaan dan pikiran untuk meng-ulik-nya, sekedar hobi atau kebutuhan. Sebuah teka-teki bisa menutrisi kesegaran pikiran dari kepenatan sekaligus menambah wawasan dan mengasah kemampuan otak.

Mengisi TTS menjadi bagian tak terpisahkan dalam kondisi menunggu sesuatu atau seseorang, menghadapi situasi yang membosankan atau di waktu luang sebagai kegiatan pengisi waktu. Sejatinya, para penggemar TTS mampu mengambil manfaat dari mengisi TTS, lebih dari sekedar mengalihkan rasa bosan atau hanya sekedar mengisi waktu luang.

Sejarah Singkat TTS

Teka-teki silang yang menjadi kegemaran lintas generasi ini, sesungguhnya merupakan hal baru, tetapi tidak begitu baru. Artinya, hal ini sudah berlangsung dari zaman ke zaman dengan format dan bentuk yang serupa tapi tak sama. Catatan sejarah menyatakan bahwa format TTS seperti sekarang sudah ada sejak zaman kuno. Bentuknya masih cukup sederhana, yaitu sebuah bujur sangkar berisi kata-kata, huruf-huruf yang sama pada bujur sangkar itu menghubungkan kata-kata secara vertikal dan horizontal. Hampir serupa dengan TTS yang kita kenal sekarang.

Dalam buku Tell Me When – Science and Technology, TTS pertama muncul di suratkabar New York World pada tanggal 21 Desember 1913. TTS pertama ini disusun oleh Arthur Winn dan diterbitkan pada lembar tambahan edisi hari Minggu suratkabar tersebut. Selama beberapa waktu, TTS ini menjadi ciri tetap suratkabar tersebut. Bentuk dan formatnya sudah seperti TTS yang kita kenal sekarang. Pola kotak-kotak hitam dan putih, dengan kata-kata berbeda yang saling bersilangan secara mendatar dan menurun, serta terdapat panduan pertanyaan atau definisi untuk tiap kata sebagai petunjuk pengisian. Hingga tahun 1924, yaitu ketika buku TTS pertama kali terbit, TTS belum begitu populer. Namun, setelah buku-buku TTS menyebar, TTS sangat digemari di seluruh Amerika, selanjutnya merambah ke Eropa dan seluruh dunia termasuk kita di Indonesia.

Setelah TTS ini begitu digemari, para pegiat buku TTS mulai berkreasi menciptakan teka-teki gambar dan kemudian dikenal dengan nama puzzle. Selain untuk hiburan, fungsi teka-teki gambar atau puzzle lebih diarahkan kepada fungsi edukasi, yakni untuk menstimulasi otak anak-anak. Baik TTS maupun teka-teki gambar/puzzle hingga saat ini masih sangat populer dan digemari. Biasanya untuk mengisi waktu santai kita. Bersantai sambil mengasah otak.

Filosofi TTS (: sebuah renungan menjelang berbuka puasa)

Sebuah TTS tidak hanya merupakan sekumpulan pertanyaan teka-teki yang dibukukan, tetapi memiliki makna. Tak sekedar sebagai hiburan, tetapi juga mendidik kita untuk terus menambah wawasan dan mengasah kemampuan berpikir cepat. Terlepas dari adanya anggapan bahwa mengisi TTS merupakan indikasi kemalasan atau pun ada tujuan lain dari pembuatnya, TTS memiliki nilai filosofis. Ada beberapa arti filosofis dalam TTS yang menurut pandangan saya tidak berlebihan untuk diungkapkan. Pertama, bila diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, kotak-kotak berwarna hitam dan putih melambangkan bahwa kehidupan kita juga tak lepas dari keadaan hitam putih, benar-salah, baik-buruk. Kotak yang sama sekali dikosongkan (warna hitam) bisa diartikan bahwa setiap keburukan tidak akan memiliki nilai yang lebih daripada kebaikan. Kotak yang harus terisi merupakan gambaran bahwa hidup tak selalu sama, kadang-kadang ada atau tiada sesuatu pun yang kita dapat. Panduan pertanyaan untuk mengisi kotak-kotak putih menandakan usaha dan upaya untuk mengisi kehidupan itu agar lebih bermakna.

Kedua, persilangan kata dan huruf yang saling berkaitan secara vertikal dalam TTS menggambarkan kehidupan manusia yang membutuhkan hubungan dengan kekuatan supra yang akan melindungi hidupnya. Kekuatan di atas segala kekuatan makhluk, kekuatan penguasa kehidupan, Yang Maha Kuasa. Bila dikaji dari pandangan spiritual, kotak-kotak dan kata-kata yang tersusun secara vertikal melambangkan perintah dari atas ke bawah untuk menemukan pilihan hidup, memaknai keterjalinan baik dan buruk, serta mencapai tujuan hidup dalam keutuhan hakiki, yang digambarkan dengan seluruh kotak putih yang semuanya terisi. Ibadah, doa dan pengharapan hanya kepada Sang Khalik. Selain itu, dapat digambarkan bahwa dalam kehidupan manusia selalu ada yang berperan sebagai penguasa atau berkuasa. Stratifikasi sosial merupakan hal yang tidak dapat dihilangkan begitu saja. Ada penguasa ada yang dikuasai, ada yang di kelas atas, ada yang kelas menengah dan kelas bawah, walaupun secara hakikat manusia itu diciptakan sama. Namun, huruf yang di tengah atau di bawah pun bisa merangkai kata sendiri. Ini menandakan bahwa keberhasilan bisa diperoleh siapa saja, sekalipun dari kelas atas atau bawah.

Ketiga, secara horizontal, kotak dan kata pada TTS itu melambangkan kehidupan sosial manusia yang saling membutuhkan satu sama lain, saling berkaitan dan saling memiliki keterhubungan antarindividu maupun antargenerasi. Satu huruf dari satu kata bisa merangkaikan kata-kata yang berbeda. Ini menggambarkan kehidupan yang dinamis, tidak ada selembar catatan hidup pun yang bisa terhapuskan. Sejak awal sejarah kehidupan manusia, hidup terus bergulir melahirkan berbagai generasi yang heterogen, multibangsa, multibudaya, multikeyakinan dan multidinamika dalam menjalani kehidupan. Keterkaitan antarhuruf pada kata yang berbeda juga dapat diartikan sebagai keharusan untuk menjalankan hubungan sosial dengan baik, kesatuan untuk mencapai tujuan hidup bersama, sehingga tercipta kehidupan yang tertib dan tentram.

Keempat, panduan pertanyaan dari sebuah TTS secara mendatar atau menurun merupakan patokan dan petunjuk yang harus dibaca agar bisa mengisi kotak-kotak putih yang kosong hingga benar-benar selesai. Hal ini menunjukkan makna bahwa hidup harus memiliki pedoman. Melakukan berbagai upaya tentu harus disertai landasan ilmu, landasan moral dan landasan keyakinan agar tujuan hidup yang benar bisa tercapai dengan hasil yang optimal. Hidup tanpa pegangan moral, tanpa pedoman iman akan terombang-ambing, sehingga sulit mencapai tujuan. Kalau pun ada kotak yang tak terisi setelah kita baca panduan itu, itu menandakan keterbatasan kita sebagai manusia. Tidak semua hal bisa dikuasai dengan sempurna dengan kemampuan yang sama, yang penting kita sudah berusaha dengan tidak menyalahi pedoman.

Kelima, seluruh rangkaian proses pengisian TTS merupakan gambaran proses kehidupan manusia. Ada usaha, ada cobaan dan ujian, ada kesulitan dan kemudahan, ada doa dan pengharapan, serta ada kemampuan (ilmu) yang harus dimiliki, dikuasai dan diterapkan dalam mencapai tujuan hidup walaupun dalam kenyataannya ada yang berhasil dan ada yang gagal. Semua merupakan proses pembelajaran hidup.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Apa pun pendapat kita tentang sesuatu hal yang terlihat “hanya sekedar” suatu saat bisa memberikan makna dan manfaat yang besar karena sesuatu yang diciptakan pasti memiliki kegunaan. Jadikan TTS sebagi penambah wawasan dan pengasah otak, tak sekedar pengisi waktu luang.
1 komentar:

ternyata filosofi TTS keren juga ,, :p


Posting Komentar

Arsip Blog

Page Ranking Tool

Contributors

Foto Saya
MANGGE ABHOENK
Lihat profil lengkapku

Recent Posts

Traffic Blog